
Ditulis oleh: Ifrod Maksum Ditulis pada: 8/10/2017
Secara fisik ibu dan ayah sebaiknya tidak menggunakan kekurangan anak sebagai panggilan (cap), semisal si gendut, si gembrot, si pendek, si kurus, si lamban, si nakal, dan lainnya. Cap (label) negatif hanya akan menjatuhkan harga diri anak dan mengurangi semangatnya. Selain itu, banyak fakta membuktikan, dengan memberikan label negatif, orang yang diberi label itu justru akan mengikutinya dan "membuktikan" bahwa label negatif itu adalah benar. Seorang anak akan lebih malas jika ia sering dikatakan sebagai pemalas. Seorang anak akan merasa bodoh, masa bodoh, kurang semangat, rendah diri, pesimis, dan sikap diri negatif lainnya jika ia sering dikatakan bodoh atau goblok. Kata-kata, :"Kamu gagal, Nak."; "Gambarmu kurang bagus."; dan sejenisnya juga merupakan label negatif dalam takaran yang lain.
Tips Menggunakan bahasa positif kepada anak
- Ketika anak sudah putus asa, merasa tidak mampu mengerjakan sesuatu, berilah semangat dengan kata-kata, "Ayo, kita coba lagi, Nak. Kamu anak hebat kok, pasti akhirnya bisa." Ibu dan ayah hendaknya ikut bergabung dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut hingga berhasil.
- Ketika anak kalah dalam mengikuti lomba, tetap berikan semangat, ”Kamu sudah menunjukkan semangat yang luar biasa hebat, Ibu dan Ayah bangga dengan usahamu tadi.” Dilanjutkan dengan gendongan, pelukan, dan ciuman.
- Rayakan setiap keberhasilan anak, apa pun jenis keberhasilan itu. Bentuk perayaannya bisa dengan tepuk tangan, toas (membenturkan telapak tangan kita dan telapak tangan anak dengan hangat), hingga dalam bentuk hadiah.
- Banjiri anak-anak setiap hari dengan kata-kata positif, seperti: Kamu hebat, Kamu anak pintar, Ibu/Bapak sangat bangga padamu, Ibu/Bapak sangat mencintaimu, Hai, dewa penolong, dan kata-kata positif lainnya.